Tentunya ada alasan sendiri mengapa sebuah smartphone memiliki harga yang bisa dibilang tidak wajar, ataupun sangat mahal. Selain mungkin karena memiliki spesifikasi canggih dan teknologi paling baru, merk smartphone tersebut tentunya juga memiliki daya jual yang tidak bisa dianggap remeh.
Contoh paling bagus, Apple dengan iPhone-nya.
iPhone X ketika pertama kali dirilis harganya bisa dibilang sangat mahal untuk ukuran sebuah alat komunikasi. Tetapi toh nyatanya ada juga yang membeli. Jadi disini ada semacam tren, khususnya untuk kalangan orang-orang tertentu yang menginginkan smartphone bukan sebagai alat komunikasi semata.
Tetapi juga sebagai kebanggaan. Prestige.
Jika yang dicari adalah kebanggaan, sebenarnya masih ada smartphone yang harganya lebih mahal daripada iPhone X. Dan inilah 5 smartphone termahal di dunia yang bahkan harganya jauh melebihi iPhone X.
DIAMOND CRYPTO
Jika kamu adalah seorang sultan, maka smartphone ini cocok untukmu karena harganya sangat mahal, yaitu sekitar Rp 17,9 miliar. Smartphone yang dirancang oleh Peter Aloisson ini menjadi sangat mahal karena di sekeliling perangkat smartphone ini tertanam sekitar 50 berlian, dan 10 diantaranya adalah berlian biru yang sangat langka.
GOLDVISH LE MILLION
Dari namanya saja smartphone ini sudah "sombong" dengan menyematkan kata-kata Le Million. Smartphone ini dirancang oleh perancang perhiasan dan jam tangan mewah Emmanuel Gueit. Smartphone ini telah dirilis di Swiss dan mendapatkan rekor Guinnes di tahun 2006 sebagai smartphone termahal dunia dengan harga mencapai Rp 17,9 miliar. Harganya yang tinggi tersebut disebabkan karena butiran berlian 20 karat dan emas putih 18 karat di casingnya.
IPHONE 3G KING'S BUTTON
Jika Rp 17 miliar masih belum mahal, maka lihat iPhone lawas yang satu ini. Meski secara teknologi tak bisa dibandingkan dengan iPhone X, tetapi secara penampilan smartphone ini sangat wah. iPhone 3G King's Button diranacng oleh Peter Aloisson. Si perancang menanamkan 138 berlian yang terpasang di sekitar layar dan sebuah berlian besar terpasang di tombol home-nya. Harga iPhone 3G King's Button ini sekitar Rp 33 miliar.
SUPREME GOLDSTICKER IPHONE 3G 32GB
iPhone X nampaknya memang tak bisa main-main dengan senior. Karena lagi-lagi iPhone 3G varian 32 GB masuk dalam daftar smartphone termahal dunia. Supreme Goldsticker iPhone 3G ini menjadi mahal karena casingnya yang terbuat dari emas 22 karat dan dengan taburan 53 berlian. Di tombol home juga terdapat sebuah berlian langka yang berukuran cukup besar. Harganya? Rp 44,1 miliar.
DIAMOND ROSE IPHONE 4
Dan pemuncak smartphone termahal dunia adalah (lagi-lagi) smartphone lawas iPhone lainnya yaitu iPhone 4. Didesain oleh Stuart Hughes, iPhone 4 dibandrol dengan harga mencapai Rp 110 miliar. Yang membuat smartphone ini mahal adalah taburan berlian merah muda di seluruh pinggiran perangkat. Kemudian logo Apple di bagian belakang yang juga ditutupi dengan berlian merah muda. Sementara untuk tombol home terdapat paduan berlian merah muda dan berlian putih yang sangat mewah.
Itulah lima smartphone termahal di dunia. Memang bukan mahal karena teknologi yang mutakhir, tetapi tetap saja smartphone-smartphone di atas berharga sangat mahal. Mungkin masih ada smartphone mahal lainnya, sebut saja Caviar, perusahaan asal Rusia yang hobi mengutak-atik smartphone canggih dengan tambahan bahan-bahan mewah seperti emas atau berlian.
Bagaimana, tertarik?
Apple memang selalu menarik perhatian. Setelah dikabarkan tidak akan mengadopsi notch untuk smartphone mereka di masa depan, kabar lain menyebutkan bahwa Apple akan mengembangkan teknologi baru yang akan mereka gunakan pada layar smartphone baru mereka.
![]() |
| Layar OLED pada iPhone (via MacRumors) |
Selama ini Apple menggunakan OLED untuk iPhone, dan teknologi layar yang akan dikembangkan oleh Apple ini disebut-sebut memiliki kecerahan, akurasi warna, dan daya tahan yang lebih baik daripada layar-layar yang digunakan pada sebagian besar smartphone saat ini.
Tentu saja juga bukan AMOLED. Karena sekali lagi, Apple akan mengembangkan teknologi layar ini secara mandiri. Artinya teknologi layar ini merupakan sebuah teknologi yang baru - atau bisa juga pengembangan dari teknologi yang telah ada sebelumnya.
Teknologi layar yang sedang dikembangkan oleh Apple bernama MicroLED.
Teknologi apa lagi ini?
![]() |
| Rancangan layar LCD TFT (via PhoneArena) |
Saat ini, hampir semua smartphone menggunakan layar Light-Emitting Diode atau dikenal dengan LED. Teknologi layar ini memberikan tampilan backlight yang disaring melalui beberapa lapisan yang terdiri dari polarizers, color filters, dan beberapa lainnya untuk menciptakan citra atau image. Sementara OLED atau Organic Light-Emitting Diode tidak memerlukan backlight untuk menampilkan image.
Lalu bagaimana dengan MicroLED?
Hampir sama dengan OLED yang tidak memerlukan backlight, MicroLED terdiri dari tiga sub-pixel yang mampu menghasilkan cahayanya sendiri. Hal ini membuat MicroLED mampu memberikan aspek rasio layar yang baik serta berwarna hitam pekat layaknya layar OLED, tetapi tentu saja dengan beberapa perbedaan. Dan perbedaan ini menjadikan MicroLED (disebut-sebut) lebih baik daripada layar OLED.
Salah satunya adalah ketahanan MicroLED yang lebih baik daripada OLED. Hal ini dikarenakan salah satu panel MicroLED terbuat dari material bernama Gallium Nitrade (GaN) yang mampu memberikan kecerahan 30 kali daripada layar OLED, dan juga tidak menghasilkan burn-in yang menjadi salah satu masalah utama pada layar OLED.
Lalu apakah MicroLED ini sudah sempurna?
![]() |
| Perbedaan antara LCD, OLED, dan MicroLED (via wccftech) |
Tentu saja tidak ada yang sempurna di dunia ini, apalagi jika itu adalah buatan manusia. Untuk saat ini memang belum ditemukan permasalahan teknis pada MicroLED karena layar ini masih dalam tahap pengembangan. Dan sebagai langkah pertama, Apple telah membeli sebuah perusahaan pembuat MicroLED LuxVue.
Pembelian perusahaan tersebut telah dilakukan sejak tahun 2014 lalu dan sampai sekarang Apple masih mempertimbangkan tentang teknologi tersebut. Satu-satunya masalah Apple dalam mengembangkan teknologi MicroLED saat ini adalah layar ini sangat sulit dibuat dan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Artinya, MicroLED belum akan digunakan pada perangkat smartphone Apple di tahun ini. Tahun depan. Atau bahkan tahun depannya lagi.
Salah satu produk Apple yang paling mungkin menggunakan MicroLED dalam waktu dekat adalah Apple Watch. Dengan ukuran yang tidak terlalu besar, tentunya hal itu akan memberikan kemudahan bagi Apple. Termasuk juga dalam urusan budget.
Jadi?
Jadi, untuk penggemar iPhone mungkin belum akan menikmati MicroLED dalam waktu dekat. Bisa jadi Apple masih akan menggunakan OLED yang dipasok dari Samsung - rival terberat Apple di industri smartphone. Tetapi Apple juga menggunakan teknologi layar buatan LG pada iMacs dan MacBook. Lalu apakah Apple akan menggabungkan teknologi dari Samsung dan LG untuk menciptakan sebuah teknologi layar? Tunggu saja.
Namun sepertinya Apple juga harus waspada karena mereka bukan satu-satunya yang mengembangkan MicroLED. Sang rival utama, Samsung diam-diam juga memiliki produk MicroLED pada sebuah perangkat yang mereka namakan The Wall, sebuah TV berukuran jumbo 146 inci yang mulai bisa dibeli di tahun 2018 ini.
Tetapi terlepas dari hal tersebut, Apple Smart Watch adalah perangkat yang paling mungkin mendapatkan MicroLED dalam waktu dekat, mengingat berbagai aspek yang mengelilingi teknologi ini. Sementara untuk iPhone yang menggunakan MicroLED, nampaknya belum akan bisa dinikmati satu atau dua tahun ke depan. Tiga tahun lagi mungkin.
Tunggu saja.
Ricky Febrian
Maret 21, 2018
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMenenteng sebuah smartphone dengan logo buah Apel di bagian belakang tentu sudah merupakan kebanggaan tersendiri. Apalagi jika itu adalah iPhone X, yang merupakan keluaran terkini dari merk Apple, terlepas suka atau tidak dengan adanya notch di bagian atas perangkat. Meski bukan pertama kali menggunakan notch, tetapi Apple adalah pihak yang paling bertanggung jawab di balik kepopuleran penggunaan notch pada sebuah smartphone.
Lalu, jika smartphone Apple saja sudah memberi kebanggaan, bagaimana dengan Apple iPhone X yang berlapis emas 24 karat?
Adalah Caviar, sebuah perusahaan asal Rusia yang meluncurkan smartphone Apple iPhone X edisi berlapis emas 24 karat dengan dua macam model yaitu iPhone X Classic Gold dan iPhone X Liquid Gold.
Sebenarnya smartphone berwarna emas atau gold telah banyak di luar sana, bahkan merupakan salah satu varian warna yang cukup populer. Mungkin itu yang membuat Caviar meluncurkan iPhone X berwarna, bukan, berlapis emas karena iPhone X sendiri hanya ada pilihan warna Silver dan Space Gray.
Dan saking semangatnya, Caviar bukan cuma memberinya warna emas, tetapi benar-benar melapisinya dengan emas. Anti-mainstream.
Dan hasilnya memang sangat menawan. Dua varian Classic Gold dan Liquid Gold benar-benar membuat iPhone X terlihat, bukan terlihat, benar-benar membuat iPhone X semakin mewah. Tetapi tentu saja smartphone yang seperti ini merupakan smartphone yang dibuat khusus untuk segmen tertentu. Bukan cuma penggila teknologi, tetapi penggila kemewahan.
Bayangkan saja, iPhone X versi standarnya saja harganya berada di atas Rp 20an juta. Tanpa lapis emas atau tetek bengek lainnya. Kemudian dengan tambahan lapisan emas 24 karat dengan rancangan yang menawan, tentunya harganya bisa melonjak berlipat-lipat.
Untuk versi iPhone X Classic Gold harganya sekitar $4,510 atau sekitar Rp 60 jutaan. Sementara versi Liquid Gold harganya berkisar $4,805 atau sekitar Rp 66 jutaan.
Tentu saja logo buah apel masih ada di bagian punggungnya. Tentu terbuat dari emas.
Apel emas, terdengar familiar. Ah, itu adalah cerita rakyat dari wilayah Eropa yang mengisahkan para penyihir jahat yang tinggal di hutan, memancing orang-orang yang tersesat di tengah hutan menggunakan buah apel emas. Setelah mereka memakan buah apel emas itu mereka akan terhipnotis dan tak akan pernah kembali lagi dari hutan.
Lantas hubungannya?
Yah paling tidak ada yang sama-sama hilang. Jika di cerita rakyat tersebut orangnya yang hilang karena apel emas, maka untuk mendapatkan apel emas di dunia nyata ini uangnya yang hilang.
Tertarik?
Ricky Febrian
Maret 16, 2018
New Google SEO
Bandung, IndonesiaKetika notch menjadi semacam tren pada smartphone yang dirilis pasca-iPhone X, hal yang cukup mengejutkan langsung berhembus. Apple, selaku pihak yang "bertanggung jawab" atas kepopuleran pemakaian notch pada sebuah smartphone dilaporkan akan menghentikan penggunaan notch di bagian atas perangkat.
![]() |
| Jeroan notch iPhone X (via ETNews) |
Hal ini dikemukakan oleh sebuah media asal Korea, ETNews yang mengatakan bahwa Apple mulai berpikir untuk menghilangkan notch untuk produknya di tahun 2019, dan mulai melakukan pembicaraan dengan beberapa pihak. Lebih lanjut, Apple ingin mengembangkan teknologi full-screen untuk iPhone terbaru.
“Apple decided to get rid of notch design starting from 2019 models and is having discussions with relevant companies.” said an industry representative. “It seems that Apple is planning to implement full-screen that is more complete in its new iPhones.”
Teknologi full-screen pada sebuah smartphone diketahui telah dilakukan oleh Vivo pada smartphone-nya yang futuristik, Vivo Apex. Hal ini berarti Apple bukan menjadi yang pertama dalam menerapkan sebuah teknologi. Tetapi yang perlu ditekankan, Apple juga bukan yang pertama dalam menerapkan penggunaan notch pada sebuah smartphone. Essential yang pertama melakukan itu.
![]() |
| Detail notch iPhone X (via 9to5mac) |
Tetapi, semua tahu bahwa kemudian Apple yang membuat notch menjadi "boom!" Meledak dan menjadi pusat perhatian. Dan semua beramai-ramai menggunakan notch.
Bukan tidak mungkin Apple melakukannya lagi.
Hal ini bisa menjadi jawaban Apple atas pergerakan Samsung - rival utama Apple - yang telah mematenkan teknologi lubang pada layar. Yang akan dilakukan Apple kemungkinan akan menempatkan lubang speaker di sisi atas perangkat.
Lalu bagaimana dengan kamera depan?
Tentunya Apple akan memikirkan hal tersebut. Dan sejauh ini, produk-produk Apple selalu memuaskan, bukan? Meskipun pada kasus iPhone X, notch dan harga yang tinggi menjadi perdebatan. Toh, produk ini juga laris.
Full-screen iPhone. Terdengar keren.
Apple iPhone X yang merupakan smartphone yang bisa dibilang "out of the box" buatan Apple ini sebenarnya tidak bisa dibilang gagal dalam segi penjualan. Dari riset yang dilakukan oleh Loyaltics, penjualan iPhone X ini di minggu pertama bahkan bisa mengungguli duet iPhone 8 dan 8 Plus. Sementara secara keseluruhan, iPhone X berhasil mencatatkan 0,93 persen pangsa pasar dari keseluruhan model iPhone di seluruh dunia.
Terlepas dari hal itu, santer rumor yang beredar bahwa Apple akan merilis versi terjangkau dari iPhone X yang namanya sering disebut sebagai iPhone SE 2. ConceptiPhone dan Lee Gunho berkolaborasi merancang desain dari iPhone SE 2 ini dan hasilnya cukup menarik.
Sebagai "versi murah" dari iPhone X, iPhone SE 2 ini memiliki desain tampilan luar yang tidak jauh berbeda dengan si kakak. Body yang terbuat dari kaca dan frame metal serta ramping, dan tentu saja yang membuat iPhone X populer, adanya notch di bagian atas.
Teknologi Face ID juga disematkan pada smartphone ini. Yang cukup mencolok adalah satu buah kamera di bagian belakang, tepatnya di pojok atas. Kamera ini cukup mencolok dengan lingkaran frame yang mengilap.
Sebagai versi murah dari sang kakak, iPhone SE 2 memang tidak memiliki spesifikasi semewah kakaknya, seperti sebut saja layarnya yang menggunakan layar LCD sementara kakaknya sudah menggunakan layar OLED (meski belakangan diketahui ada masalah di layar OLED-nya si X ini). Penggunaan LCD screen di iPhone SE 2 tentu saja bertujuan menekan harga agar tidak terlalu tinggi.
Tetapi, sebenarnya smartphone ini akan lebih menarik kalau bukan diberi nama iPhone SE 2 melainkan iPhone X Mini. Selain mudah diketahui secara langsung sebagai versi murahnya iPhone X, nama tersebut terdengar lebih "cute." Tertarik?
Masih belum jelasnya tentang nasib penerus iPhone X ke depannya, digunakan oleh para penggemar smartphone berimajinasi dan berekspresi tentang bagaimana Apple iPhone X generasi selanjutnya. Dan dari banyaknya rancangan iPhone X generasi kedua, mungkin ini adalah salah satu yang paling radikal.
Mengapa radikal? Lihat saja.
Di rancangan penerus iPhone X ini, Michael Muleba sang desainer menempatkan sebuah kamera besar di bagian belakang perangkat. Dengan sekali lihat, mudah diketahui bahwa smartphone ini akan fokus pada teknologi fotografi.
Modul kamera besar, sekilas terlihat seperti kamera saku. Jika diingat-ingat, rancangan yang mirip seperti ini pernah dilakukan oleh Nokia dengan seri Lumia 1020 yang memiliki resolusi besar. Juga Samsung K-Zoom. Atau juga smartphone buatan GoPro...
Sang perancang menyebut generasi kedua iPhone X ini sebagai iPhone XE.
Meski secara keseluruhan desain iPhone XE (mari kita biasakan nama itu) ini berbeda dengan iPhone X, beberapa bagian masih khas iPhoneX seperti tentu saja notch bagian atas, yang banyak dikritik tetapi banyak ditiru.
Tetapi mari kita lupakan notch tersebut karena fokus kita adalah pada kamera belakang iPhone XE ini. Kamera pada perangkat ini disebut-sebut setara dengan kamera DSLR. Zoom-nya pun bukan digital lagi, tetapi manual sama seperti kamera profesional.
Secara keseluruhan, kamera besar di bagian belakang ini terlihat kurang proporsional jika dilihat dari seluruh desain smartphone. Dengan modul kamera yang menonjol sebesar itu, tentunya berat perangkat ini akan menjadi tidak seimbang. Perlu perlakuan khusus ketika menenteng kamera poket..mmm..maksudnya smartphone berkamera profesional ini.
Dan, melakukan panggilan akan terlihat sedikit aneh menggunakan smartphone ini. Mungkin jika bisa dirancang agar kamera bisa keluar masuk, akan lebih enak dipandang.
Smartphone terbaru Apple, yaitu iPhone X mungkin memang secara penjualan tidak selaku beberapa pendahulunya. Harga yang sangat tinggi diduga menjadi penyebab penjualan smartphone ini cukup lesu. Dari segi penjualan mungkin iPhone X tidak begitu laku. Tetapi dari sisi lain, iPhone X ini ternyata sangat menarik perhatian.
Buktinya, hampir smartphone baru yang akan dirilis setelah iPhone X ini mengusung desain yang mirip. Setidaknya di sektor penempatan kamera belakang yang ada di sisi kiri atas vertikal ke bawah.
Sebenarnya kalau diamati penempatan seperti itu secara estetika kurang sedap dipandang. Walaupun tentunya itu adalah faktor selera. Dan fakta di lapangan ternyata menunjukkan bahwa penempatan seperti ini banyak disukai. Buktinya banyak yang mengekor.
Atau mungkin ingin agar terlihat Apple-look.
Tercatat beberapa smartphone meniru desain penempatan kamera belakang yang vertikal ke bawah. Sebut saja seri terbaru Huawei P20, baik itu P20 Basic, Plus, atau Lite. Ketiganya memiliki penempatan kamera belakang yang memanjang layaknya iPhone X.
Kemudian juga ada ASUS ZenFone 5 Max yang juga sama-sama belum dirilis. Dari konsep desain yang beredar bahwa smartphone ini juga akan menempatkan kamera belakang layaknya iPhone X. Lalu Xiami juga tak mau ketinggalan dengan seri Mi 6X.
Selain itu ada Small Pepper (ya, ini merk smartphone), Sharp, iLa X, Oppo R13 (rumor), Oukitel, dan mungkin ada beberapa lainnya.
Sebenarnya sah-sah saja meniru atau mengadopsi desain dari perangkat lain karena memang saat ini desain smartphone hampir tak ada yang orisinal, semuanya mirip satu sama lain. Mungkin ada beberapa yang orisinal seperti Sony dengan Xperianya, atau Motorola Moto-nya.
Selain itu yang membuat beberapa smartphone meniru smartphone lain adalah karena persaingan di industri smartphone saat ini sangat keras sehingga merilis smartphone dengan desain yang benar-benar baru akan sangat berat untuk bersaing. Kecuali Apple dan (mungkin) Samsung, serta beberapa merk lainnya.
Bahkan, baru-baru ini kloningan Apple iPhone X beredar di Tiongkok, dengan desain yang secara keseluruhan sangat mirip. Dari penempatan kamera, kemudian layar penuh, serta notch bagian atas. Smartphone yang bernama OWWO X ini bahkan juga menggunakan nama X agar semakin mirip dengan aslinya.
Sukseskah? Mencuri perhatian, mungkin. Penjualan (tidak) mungkin, kecuali di Tiongkok sendiri (lagi-lagi) mungkin.
Ricky Febrian
Februari 09, 2018
New Google SEO
Bandung, Indonesia





































